Selasa, 07 Januari 2014

SUNAN KUDUS DAN STRATEGI DAKWAH ISLAM



A. Biografi Sunan Kudus
Ja'far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putera dari pasangan Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (letaknya disebelah utara kota Blora) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang.[1] Lahir pada 9 September 1400M/ 808 H. Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.
Menurut cerita rakyat Sunan Kudus adalah cucu Sunan Ampel. Ada yang mengatakan bahwa beliau keturunan orang Persia ,tetapi ada juga yang menyatakan beliau itu orang Jawa asli. Jika mengingat pengaruhnya yang sampai sekarang masih besar di kalangan masyarakat Kudus, yaitu mempunyai jiwa dagang, maka menurut dugaan Sunan Kudus itu adalah keturunan Persia atau setidak –tidaknya dari Pasai.
Sunan Kudus memiliki sifat gagah berani sebagai seorang panglima perang, beliaulah yang menggatikan ayahnya memimpin ekpedisi ke Jawa Timur ,setelah ayahnya gugur di medan pertempuran. Sunan Kudus adalah ulama fiqih yang  sangat ketat memegangi syariat dalam cara berfikirnya dan tegas dalam bertindak menghadapi penyelewengan .
Diriwayatkan, beliaulah yang banyak mengambil peranan dalam bidang para wali yang dikuasakan oleh Sultan Demak mengadili Syaiq Siti Jenar. Memang Siti Jenar sebagai seorang sufi dan Sunan Kudus terkenal oleh faqih (ahli fiqif ) yang kuat syairatnya , sudah barang tentu memiliki pandangan hidup dan tinjauan terhadap berbagai persoalan yang sangat jauh berbeda .
Sunan Kudus menyiarkan agama islam seperti para wali yang lain yaitu dengan kebijaksanaan, tidak memakai kekerasan atau paksaan. Dintaranya caranya dapat disebutkan misalnya; melarang untuk memotong binatang yang dianggap suci bagi agama Hindu, menggunakan elemen–elemnen bangunan candi Hindu untuk bangunan masjid makam, menciptakan gending Maskumambang dan Mijil. Dengan cara demikian Sunan Kudus mengajarkan agama islam kepada mereka dan lambat laun dengan kemauanya sendiri para penganut agama Hindu ini kemudian masuk islam.[2]
B. Strategi Dakwah Sunan Kudus
a.      Kondisi masyarakat Jawa pada masa Walisanga
            Situasi masyarakat Jawa sebelum kedatangan Islam termasuk di daerah Kudus, kehidupannya banyak dipengaruhi oleh system kasta atau perbedaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakatnya terpecah-pecah. Maka setelah Islam datang ke tanah Jawa, secara bertahap perbedaan kasta itu mulai terkikis dan hak asasi manusia mulai mendapat tempat secara lebih layak, meski harus melalui proses yang panjang sehinga harkat dan martabat umat semakin terangkat.[3]
            Dalam sejarahnya, kehadiran Islam di Jawa tidak lepas dari peran sejumlah wali yang dikenal dengan Walisanga. Walisanga merupakan pelopor dan pemimpin dakwah Islam di Nusantara atau khusunya di Jawa. Perintis pertama adalah Syaikh Maulana Malk Ibrahim. Walisanga telah berhasil merekrut dan mengkader murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam di Nusantara sejak abad 15. Walisanga terdiri dari Sembilan wali yaitu ; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajad, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.
            Hanya sembilan wali yang sampai sekarang banyak dikenal masyarakat, hal itu dikarenakan hanya sembilan wali yang benar-benar sebagai pelopor dakwah Islam di daerahnya masing-masing dan paling mendapat pengakuan dari masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan antara lain dengan berbagai peninggalan benda cagar budaya, seperti masjid, menara, makam kramat, dan benda-benda lain yang bernafaskan Islam seperti Tasbih, bedug, surban dan sebagainya.
            Secara garis besar dalam menjalankan dakwahnya walisanga melalui jalan damai dengan strategi rekonsiliasi dengan nilai, kebiasaan dan budaya lokal. Walisanga telah mendudukkan posisinya sebagai agen unik di Jawa yang mampu mengkombinasikan aspek spiritual yang sacral dengan aspek secular yang profane dalam menyiarkan Islam sehingga mengkonstitusi dalam bentuk Islam yang sufisme. Sufisme yang begitu toleran terhadap tradisi Jawa serta memodifikasinya di bawah bendera Islam, kenyataannya diikuti oleh para tokoh di masyarakat pesisir utara Jawa, termasuk Sunan Kudus. Apalagi di Kudus yang secara nyata merupakan daerah yang menjadi pusat dakwah dua wali sekaligus yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Oleh karena itu konstruksi islam di Kudus dalam perjalanannya tidak lepas dari peran tokoh Sunan Kudus itu sendiri.[4]
b.      Strategi dakwah Sunan Kudus
Secara umum metode dakwah walisanga dikenal dengan pendekatan kultural sehingga memberikan watak islam yang ramah, damai, dan toleran, namun masing-masing wali memiliki keunikan tersendiri sejalan dengan watak sosial dan budaya daerah yang disinggahi oleh para wali. Mengenai strategi dakwah Sunan Kudus, akan dijelaskan sebagai berikut ;
1.      Pendekatan struktural dakwah Sunan Kudus
Dalam struktur “Dewan Wali” menurut kitab walisanga karangan Sunan Giri, Sunan Kudus dipercaya sebagai Panglima perang di Kerajaan Demak Bintoro. Sunan Kudus juga dikenal sebagai “eksekutor” ketika terjadi ketetapan hokum atas sebuah masalah yang diputuskan oleh Dewan Walisanga. Hal itu terjadi ketika Syaikh Siti Jenar karena dianggap menyimpang atau membelot dari ajaran walisanga, sehingga dianggap akan menyesatkan umat yang baru saja memeluk Islam. Maka Syeikh Siti Jenar mendapatkan putusan hukuman mati. Eksekutor dalam hukuman ini diserahkan kepada Sunan Kudus. Meskipun pada akhirnya Syaikh Siti Jenar memilih sendiri caranya untuk mati.[5]
            Strategi dakwah Sunan Kudus yang menggunakan pendekatan struktural yaitu dengan cara mengislamkan penguasa atau ikut terlibat dalam pendirian kekuasan baru, seperti kesultanan Demak dan Cirebon. Sunan Kudus turut terlibat sebagai senopati di Kasultanan Demak.
2.      Pendekatan kultural dakwah Sunan Kudus
Sunan Kudus sejak memulai dakwahnya di Kudus enam abad yang lalu melalui jalur pendekatan kultural. Beberapa model dakwah Sunan Kudus yang mengedepankan pendekatan cultural akan dijelaskan sebagai berikut ;
·         Menciptakan ruang budaya
Langkah pertama aksi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus ketika memulai gerakannya adalah membangun masjid. Meskipun pada awalnya dalam bentuk yang sederhana, dalam perspektif budaya Sunan Kudus sebenarnya sudah sadar akan pentingnya ruang budaya dalam melakukan transformasi sosial. Masjid dalam hal ini menjadi smacam nilai simbolik babak baru dalam melakukan transmisi nilai, meski dari segi struktur bentuk masjid masih tetap memperhatikan budaya local yang mirip bangunan pure, tempat ibadah bagi umat Hindu.
Keberadaan masjid Al Aqsha dan menara kudus yang kokoh, tegak dan menjulang tinggi terseut sebagai penanda yang jelas menyiratkan adanya penanda bahwa bangunan kepercayaan lama segera ditinggalkan, beralih kepada kepercayaan baru.namun nilai-nilai lama yang tidak bertentangan denagna islam yan dimiliki oleh Hindu tidak serta merta dihilangkan secara total. Oleh karena itu dalam konstruksi bangunan masjid dan menara tersebut Sunan Kudus tetap memperhatikan dan menghargai pola dan bentuk bangunan yang sebelumnya  sudah ada, yaitu miripatap bangunan pure.
·         Akulturasi
Pola akulturasi sangat kental dalam strategi dakwah Sunan Kudus, beliau mencoba membawa unsur-unsur budaya baru yang sarat dengan muatan islami, namun tetap mempertahankan unsur-unsur budaya lamayang melekat dalam masyrakat Kudus saat itu.[6]
Jauh sebelum kehadiran islam yang dibawa oleh sunan kudus kebanyakan masyarakat memiliki kepercayaan yang cenderung bertentangan dengan tauhid. Struktur masyarakat dibangun denganm system kasta atau perbedaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat cenderung diskriminatis, tidak adil pada saatt itu. Manifestasi yang suci diwujutkan dalam bentuk arca dan juga binatang-binatang tertentu yang dianggap memiliki nilai sakral. Yang menonjol aalah mempercayai adanya banyak tuhan (politeisme).
Maka ketika sunan kudus membawa ajaran baru dengan agama islam yang menekankan aspek tauhid (monoteisme), jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran masayarakat setempat. Ini merupakan tantangan berat bagi sunan kudus. Maka denganm penuh bijaksana sunan kudus tidak secara frontal menyampaikan ajaran islam tersebut kepada mereka. Akulturasi islam dan budaya lokal adalah salah satu strategi yang ditawarkan oleh sunan kudus. Beberapa bentuk pola alkuturasi budaya lokal yang dekat dengan tradisi hindu dengan nilai-nilai islam dapat dicermati  pada pembahasan berikut :
a.       Berntuk bangunan
Pola alkuturasi budaya local hindu /buda dengan islkam dalam bentuk arsitektur yang paling jelas terdapat pada bangunan menara kudus yang menjadi kebanggaan umat islam. Kalau diperhatikan bentuk menara kudus itu menyerupai bangunan pura di bali atau candi jago peninggalan hindu-budha di malang. Demikian juga ornamen–ornamen yang ada pada menara kudus juga mencerminkan lintas budaya, seperti piringan yang melekat di dinding menara adalah model piringan cina.
Menara kudus yang bentuknya mirip pura, di fungsikan sebagai tempat adzan agar orang-orang bisa mendengarkan bila adzan dikumandangkan.di menara ini juga selalu dibunyikan bedug setiap kali datangnya bulan suci ramadhan, sebagai tanda masuknya ibadah puasa.
Bentuk lain pola alkuturasi juga bisa dilihat pada 8 pancuran/padasan kuno. Tiap–tiap pancuran dihiasi dengan relief arca sebagai ornament penambah estetika. Pancuran wudhu itu mengadopsi ajaran budha, asta sanghika marga yakni 8 jalan utama yang menjadi pegangan umat saat itu dengan merujuk pada 8aspek yang penting dalam kehidupan yakni: pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan keutuhan. Pada ornamen pancuran yang masih otentik tersebut dialih fungsikan untuk bersuci sebelum shalat dilakukan yang hingga sekarang masih ada dan berfungsi dengan baik.
b.      Mangikat sapi di halaman masjid.
Untuk mengait masyarakat sekitar agar tertarik datang masuk ke masjid menara kudus, sunan kudus medatangkan sapi lalu dikat di depan masjid. Dalam kepercayaan mereka sapi adalah binatang yang dihormati, sehingga jarang orang memiliki sapi. Sapi biasanya hanya oleh orang–orang tertentu yaitu pemuka–pemuka mereka. Dengan cara yang seperti itu, orang berbondong–bondong datang ke masjid, yang tujuan awalnya adalah menghampiri sapi yang langka itu. Maka ketika sudah banyak orang yang berkumpul di masjid, sunan kudus menyampaikan wejangan–wejangan ringan terkait dengan ajaran islam.
Yang tak kalah menarik sunan kudus juga melarang jamaahnya untuk menyembelih sapi, meski dalam islam hal itu dihalalkan. Hal ini sebagai wujud strategi menarik simpati masyarakat yang kebanyakan saat itu menganggap binatang sapi sebagai makhluk yang suci. Ternyata apa yang dilakukan oleh sunan kudus benar–benar ampuh, sehingga dalam waktu yang tidak lama islam dapat diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Kudus hingga sekarang warga kudus masih mempertahankan adat tersebut dengan tidak menyembelih sapi pada saat hari raya idul atha. Dengan demikian sunan kudus lebih mengedepankan toleransi dan harmoni dari pada konflik dalam menyiarkan islam.


c.       Mengubah tembang dan cerita ketauhidan
Sunan kudus juga dikenal sebagai penyair dan pengubah cerita rakyat yang berfisi ketauhidan. Buah karyanya adalah lagu gending maskumambang dan mijil. Dalam banyak hal sunan kudus mencoba mewarnai gending atau cerita–cerita tertentu yang semula kering dari nilai islam, diisi dengan semangat ketauhidan.
C. Peninggalan-peninggalan Sunan Kudus
Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kota Kudus, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.


Kesimpulan
Sunan Kudus atau Syeh Ja'far Shodiq adalah seorang yang tidak hanya merupakan senopati di Kerajaan Demak Bintaro namun juga ahli hukum agama Islam. Pada waktu itu suasana di Kudus banyak terdapat kedholiman. Banyak masyarakat yang suka foya-foya, judi, mabuk-mabukan dll. Hal tersebut membuat Sunan Kudus risau dapatkah orang-orang yang dholim itu disadarkan.Akhirnya melalui dakwah, Sunan Kudus berhasil mengajak mereka memeluk agama Islam.
Sunan Kudus atau Ja’far Shodiq adalah putra dari Raden Usman Haji. Sunan Kudus ahli di dalam ilmu agama, pemerintahan dan kesusasteraan. Tidak heran jika beliau menduduki jabatan-jabatan penting. Di dalam menyebarkan agama islam, beliau menggunakan cara-cara yang sangat bijaksana, melihat situasi dan kondisi masyarakat setempat. Ini terbukti dari :
  • Bangunan Masjid dan Menara Kudus disesuaikan dengan seni bangun atau arsitektur Hindu. Ini akan memberikan kesan bahwa agama yang dibawa oleh Sunan Kudus sama dengan agama Hindu. Jadi masyarakat tidak terkejut atau menolak.
  • Masyarakat Hindu menganggap bahwa sapi atau lembu adalah binatang suci yang tidak boleh diganggu. Sunan Kudus juga memerintahkan kepada masyarakat supaya jangan menyembelih lembu. Jika ini terjadi, maka masyarakat akan marah, sebab binatang kesayangannya diganggu.
  • Lubang pancuran yang berjumlah delapan buah dan berbentuk kepala arca. Angka delapan ini menurut orang Buddha diartikan delapan jalan kebenaran.
Sunan Kudus selain terkenal sebagai seorang wali, ahli dalam bidang agama, pemerintahan dan kesusasteraan, beliau juga dikenal sebagai pedagang yang kaya. Beliau mendapat gelar Waliyyul Ilmi, sehingga beliau diangkat sebagai penghulu (Qodi) di kerajaan Demak.

Saran
1.      Perlunya pemeliharaan dan perawatan komplek Makam Masjid Menara Kudus dari pemerintah khususnya Dinas Purbakala.
2.      Perlunya peraturan yang ketat dalam pengelolaan Makam Masjid Menara Kudus dari penjaga saat para peziarah dan wisatawan datang.

Daftar Pustaka
Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3, Yogyakarta: Kanisius.
Notosusanto, Nugroho, 1993, Sejarah Nasional Indonesia 3, Jakarta: Balai Pustaka.
Abd. Moqsith Ghazali, Djohan Effendi, 2009, Merayakan Kebebasan Beragama Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi, Jakarta: ICRP Bekerjasama dengan Kompas.
Said, Nur, 2010, Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa, Bandung: Brilian Media Utama.
Salam, Solichin,  1960, Sekitar Walisanga, Kudus: Menara Kudus.
Muljana, Slamet, 2005,  Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara, PT  LKiS Pelangi  Aksara.


[1]Slamet  Muljana, 2005,  Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara, PT  LKiS Pelangi  Aksara,  hal. 52.
[2] Solichin Salam, 1960, Sekitar Walisanga, Kudus: Menara Kudus, hal 13.
[3] Nur Said, 2010, Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa, Bandung: Brilian Media Utama, Hal 54-57.
[4] Ibid.
[5] Ibid., hal. 58
[6] Ibid., hal. 68

Tidak ada komentar:

Posting Komentar